Selasa, 11 Desember 2012

isolasi bakteri


LAPORAN PRAKTIKUM MIKROORGANISME
PERCOBAAN III
ISOLASI BAKTERI

Description: E:\Logo-Logo\UNHALU (2).bmp 

OLEH :

NAMA                       : JUMAING
STAMBUK               : FI CI 10 020
KELOMPOK            : II (DUA)
ASISTEN                   Wd. FITRIA SAKINAH



JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2012
BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Secara umumnya diketahui bahwa mikroba yang hidup di alam terdapat dalam bentuk populasi campuran. Jarang sekali kita temukan  mikroba di alam yang hidup hanya  satu spesies atau spesies tunggal. Dengan demikian, agar mikroba tersebut dapat diidentifikasikan, sehingga mudah dipelajari sifat pertumbuhan, morfologis, dan fisiologis masing-masing mikroba maka langkah yang pertama harus dilakukan yaitu spesies tersebut dipisahkan dari organisme lain yang umum dijumpai dalam habitatnya, kemudian ditumbuhkan menjadi biakan murni yaitu suatu biakan yang terdiri dari sel-sel dari satu spesies.
Mikroorganisme merupakan mahluk hidup yang sangat banyak, baik itu terdapat ditanah, air maupun udara. Maka dari itu harus dilakukan  isolasi maupun permurnian agar kita bisa  mendapatkan mikroorganisme (bakteri) tersebut dalam keadaan murni. Populasi yang besar dan kompleks dengan berbagai mikroba terdapat dalam tubuh manusia termasuk dimulut, saluran pencernaan dan kulit. Isolasi adalah cara untuk memisahkan atau memindahkan mikroba tertentu dari lingkungannya, sehingga diperoleh kultur murni atau biakan murni. Kultur murni ialah kultur yang sel-sel mikrobianya berasal dari pembelahan dari satu seltunggal. Kultur murni atau biakan murni diperlukan karena semua metode mikrobiologis yang digunakan untuk menelaah dan mengidentifikasi mikroorganisme, termasuk penelaahan ciri-ciri kultural, morfologis, fisiologis,maupun serologis, memerlukan suatu populasi yang terdiri dari satu macam mikroorganisme saja.
Maka dari itu pada praktikum ini kita akan mengetahui dan menguasai teknik isolasi mikroba dari wadah yang satu dengan wadah yang  lain sehingga kita dapat membiakkan dan menumbuhkan mikrooorganisme (bakteri) yang murni. 
B.  Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada percobaan ini adalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana cara mengisolasi mikroba ?
2.      Bagaiman cara memindahkan biakkan mikroba(bakteri) dari wadah satu ke wadah yang lain ?
C.  Tujuan
Tujuan pada percobaan ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui dan memahami teknik pengisolasian mikroba.
2.      Untuk memindahkan biakkan  mikroba dari wadah yang satu ke wadah yang lain, agar tidak tercampur dengan bakteri yang lain.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Media adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat hara (nutrien) yang berguna untuk membiakkan mikroba. Dengan menggunakan bermacam-macam media dapat dilakukan isolasi, perbanyakan, pengujian sifat fisiologis dan perhitungan sejumlah mikroba. Supaya mikroba dapat tumbuh baik dalam suatu media, maka medium tersebut harus memenuhi syarat-syarat, antara lain: harus mengandung semua zat hara yang mudah digunakan oleh mikroba, harus mempunyai tekanan osmosis, tegangan permukaan dan pH yang sesuai dengan kebutuhan mikroba yang akan tumbuh, tidak mengandung zat-zat yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba, harus berada dalam keadaan steril sebelum digunakan, agar mikroba yang ditumbuhkan dapat tumbuh dengan baik (Michael, 2005).
Dikenal beberapa cara atau metode untuk memperoleh biakan murni dari suatu biakan campuran. Dua diantaranya yang paling sering digunakan adalah metode cawan gores dan metode cawan tuang. Yang didasarkan pada prinsip pengenceran dengan maksud untuk memperoleh spesies individu. Dengan anggapan bahwa setiap koloni dapat terpisah dari satu jenis sel yang dapat diamati  (Afrianto, 2004).
Biakan murni diperlukan dalam berbagai metode mikrobiologis, antara lain digunakan dalam mengidentifikasi mikroba. Untuk mengamati ciri-ciri kultural morfologi, fisiologi dan serologi dibutuhkan mikroba yang berasal dari satu spesies  (Dwidjoseputro, 2005).
Prinsip dari isolasi mikroba adalah memisahkan satu jenis mikroba dengan mikroba lain yang berasal dari campuran bermacam-macam mikroba. Hal ini dapat dilakukan dengan menumbuhkannya dalam media padat, sel-sel mikroba akan membentuk koloni sel yang tetap pada tempatnya  (Nur, I. dan Asnani, 2007).
Kabupaten Tuban yang berada di jalur pantai utara memiliki areal pertambakan yang cukup luas yaitu 697,30 Ha dan sawah tambak seluas 2.124,04 Ha. Salah satu kawasan pertambakan di Kabupaten Tuban adalah Kec amatan Jenu dengan luas lahan sekitar 183,10 Ha Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan bakteri patogen di per airan pantai Jenu dan kawasan tambak di Kecamatan Jenu Kabupaten Tuban , melakukan isolasi terhadap bakteri patogen tersebut dan mengetahui karakteristik bakteri patogen tersebut. Penelitian menggunakan metode survei, dimana perairan pantai kawasan desa Sugihwaras Kecamatan Jenu dijadikan sebagai daerah pengamatan , kemudian dilakukan analisis mikrobiologis dan fisiologis melalui uji biokimia . Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap sampel air laut yang diambil pa da 1 m, 10 m dan 100 m dari batas pantai , ditemukan tujuh isolat bakteri yang termasuk golongan bakteri patogen ( Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, Pseudomonas pseudomelle, Enterobacter aglomerans dan Vibrio Chorela) dan bakteri non patogen (Nitrobacter sp dan Bacillus subtilis)(Rahmaningsi at al., 2012).

 Karakterisasi mikroba dalam air pendingin sekunder gas-gas. Telah diperoleh hasil identifikasi karakteristik bakteri yang terkandung dalam air sistem pendingin sekunder RSG-GAS berdasarkan sifat-sifat morfologi sel, sifat-sifat fisiologi sel dan respon terhadap reaksi karbohidrat serta dihitung jumlah koloni bakteri dengan metode total plate count. Sampling air dilakukan pada beberapa tempat antara lain di kolam pendingin sekunder (1), setelah lewat kran (2), seteleh sistem penukar panas (3), dan air masuk ke kolam pendingin setelah lewat kran (4). Sampel dianalisis secara mikrobiologi menurut prosedur Bergey’s Manual. Berdasarkan hasil isolasi, telah teridentifikasi adanya spesies bakteri pereduksi sulfat dari species desulfococcus multivoran. Masing-masing, lokasi (1) mengandung 7,4 x 104 cfu/ml, lokasi (2) 6,9 x 104 cfu/ml, lokasi (3) 2,8 x 104 cfu/ml, dan lokasi (4) 1,9 x 104 cfu/ml. Hasil analisis dari keempat lokasi diperoleh bahwa kandungan bakteri masih dibawah spesifikasi air pendingin sekunder yaitu <106 cfu/ml. Ukuran mikro partikel bakteri 0,5 μ masih mampu lolos dari sistem filtrasi air pendingin kecuali memakai filter bakteri semi permeable berukuran 0,22 μ. Keberadaan bakteri pereduksi sulfat yang terakumulasi membentuk lapisan dapat menimbulkan biokorosi dan pada suatu saat dapat menurunkan kemampuan sistem pertukaran panas(Karliana et al., 2008 ).
Metanogenesis yang terjadi dalam sistem rumen memberikan pengaruh yang merugikan terhadap hewan ruminansia dan lingkungan atmosfir. Pencegahan pembentukan gas metan melalui jalur reduksi gas karbondioksida oleh gas hidrogen telah dilakukan secara mikrobiologis. Pendekatan yang dilakukan diawali dengan tahap isolasi bakteri dari rumen domba (IBD) dan kerbau (IBK) dengan menggunakan media asetogen pengguna karbonmonoksida. Selanjutnya perbanyakan isolat digunakan medium biakan bakteri anaerob standar dalam penyiapan sediaan inokulum untuk fermentasi substrat (rumput Raja) yang diinkubasi pada suhu 390C selama 48 jam. Cairan rumen domba segar (CRDS) digunakan sebagai pembanding. Parameter utama yang diukur adalah produksi gas CO2, CH4, dan komposisi asam-asam lemak volatil (VFA). Parameter lainnya yang diukur adalah pH, N-NH3, populasi bakteri, dan in vitro DMD. Data hasil percobaan dianalisis dengan menggunakan rancangan acak lengkap. Hasil pengamatan morfologis menunjukkan bahwa sel IBD berbentuk oval pleomorfik dengan tipe Gram negatif dan sel IBK memperlihatkan bentuk batang dengan tipe Gram negatif. Dibandingkan CRDS, persentase volume gas CH4 dalam volume total gas yang dihasilkan oleh IBD lebih rendah, namun tidak berbeda nyata (29,47 vs. 33,07%), dan IBK lebih rendah secara sangat nyata (P<0,01) (24,29 vs. 33,07%). Rasio asetat/propionat hasil fermentasi oleh IBD dan IBK menunjukkan
perbedaan yang sangat nyata (P<0,01) dibandingkan CRDS yakni berturut-turut (3,55 dan 3,79) versus 2,43. Disimpulkan dari percobaan ini bahwa isolat yang diperoleh mampu menekan metanogenesis secara efektif, dan spesies bakteri isolat IBD dan IBK diindikasikan bersifat homoasetogenik (Thalib et al., 2004).
Dalam rangka meningkatkan jumlah bakteri asam laktat, terutama bifidobakteria dalam saluran pencernaan, prebiotik harus berada dalam makanan yang dikonsumsi. Produksi bakteri asam laktat dan asam organik lainnya oleh bakteri asam laktat dan bifidobakteria tergantung pada metabolisme karbohidrat sebagai substrat yang tidak terserap pada saluran pencernaan bagian atas sebelum mencapai usus besar atau kolon. Beberapa prebiotik seperti inulin dan oligosakarida kedelai diisolasi dari sumber alami. Beberapa jenis bahan pangan yang banyak terdapat di Indonesia berpotensi sebagai sumber prebiotik, misalnya ubi jalar. Penelitian yang dilakukan oleh Nuraida et al. (2004) menunjukkan bahwa oligosakarida ubi jalar berpotensi sebagai prebiotik dengan mendukung pertumbuhan Lactobacillusdan Bifidobacteriayang diketahui dapat bertahan dalam saluran pcnccrnaan. Ekstrak oligosakarida ubi jalar pulih varietas Sukuh mampu mendukung pertumbuhan Lactobacillusdan Bifidabacterialebih baik dari pada ekstrak yang diperoleh dari ubi jalar merah (Nuraida et al., 2006).









BAB III
METODE PRAKTIKUM
A.  Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari sabtu, tanggal 20 Oktober 2012 pada pukul 11.00 – 14.00 WITA. Bertempat di Laboratorium Kimia Universitas Haluoleo Kendari.
B.  Alat dan Bahan
1.  Alat
Alat yang  digunakan pada percobaan ini adalah tabung reaksi, gelas kimia, korek api, cawan petri, pipet tetes, ose-ose, autoklaf, tabung NB, objek gelas dan mikrometer.
2.  Bahan
Bahan yang digunakan pada percobaan kali ini adalah media padat NA, media padat PDA, media cair PDA, media cair NA, sampel air dan  alkohol.



C.  Prosedur Kerja
1.  Memindahkan Biakan Bakteri Pada Media Cair








Koloni Bakteri
 
 















2.  Isolasi Bakteri dalam Cawan Cores
1.  Media Padat NA
-          dibuka mulutnya sedikit
-          difiksasikan atau miringkan mulut cawan petri
-          dilewatkan diatas api
-          tuangkan biakan bakteri
-          diinokulasikan dengan cara menggoresnya secara zig-zag setelah dipanaskan ose
-          difiksasikan lagi mulut cawan petri
-          ditutup kembali
-          disimpan didalam inkubator pada suhu ruang selama 48 jam 
 
Rounded Rectangle: Cawan 2
-          dibuka mulutnya sedikit
-          difiksasikan atau miringkan mulut cawan petri
-          dilewatkan diatas api
-          tuangkan biakan bakteri
-          diinokulasikan dengan cara menggoresnya secara zig-zag setelah dipanaskan ose
-          difiksasikan lagi mulut cawan petri
-          ditutup kembali
-          disimpan didalam inkubator pada suhu ruang selama 48 jam 
 
Rounded Rectangle: Cawan 1 








 


                                                    Koloni Bakteri





1.  Media Padat PDA
-          dibuka mulutnya sedikit
-          difiksasikan atau miringkan mulut cawan petri
-          dilewatkan diatas api
-          tuangkan biakan bakteri
-          diinokulasikan dengan cara menggoresnya secara zig-zag setelah dipanaskan ose
-          difiksasikan lagi mulut cawan petri
-          ditutup kembali
-          disimpan didalam inkubator pada suhu ruang selama 48 jam 
 
Rounded Rectangle: Cawan 2
-          dibuka mulutnya sedikit
-          difiksasikan atau miringkan mulut cawan petri
-          dilewatkan diatas api
-          tuangkan biakan bakteri
-          diinokulasikan dengan cara menggoresnya secara zig-zag setelah dipanaskan ose
-          difiksasikan lagi mulut cawan petri
-          ditutup kembali
-          disimpan didalam inkubator pada suhu ruang selama 48 jam 
 
Rounded Rectangle: Cawan 1 








 


                                                    Koloni Bakteri






BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.  Hasil Pengamatan
1.  Media Cair PDA dan NA

Description: E:\Fileku\BerkasKu\Private\Media cair kiri pda kanan na.jpg






2.  Media Padat PDA
Description: E:\Fileku\BerkasKu\Private\PDA.quhh.jpg









3.  Media Padat NA
Description: E:\Fileku\BerkasKu\Private\NA.quhh.jpg







B.  Pembahasan
Ada beberapa metode dalam mengisolasi mikroba bakteri, fungi dan khamir (mikroorganisme) yaitu dengan menggunakan metode gores, metode tuang, metode sebar, metode pengenceran dan micromanipulator. Dua diantaranya yang paling sering digunakan adalah teknik cawan dan cawan gores. Kedua metode ini didasarkan pada prinsip yang sama yaitu mengencerkan organism sedemikian rupa sehingga tiap individu spesies dapat dipisahkan dengan lainnya. Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari teknik-teknik di dalam pengisolasian mikroba beserta pemurniannya. Sampel tanah yang digunakanuntuk mendapatkan mikroba adalah sampel tanah kebun dan tanah disekitar sampah.Sedangkan sampel air yang digunakan adalah sampel air kemasan danair sungai. Dilakukan serangkaian pengenceran pada sampel untuk mengisolasi bakteri dari tanah/benda padat yang mudah tersuspensi atau terlarut atau zat cair.
Pengenceran ini bertujuan untuk mempermudah dalam perhitungan dalam jumlah koloni mikroba yang tumbuh, baik warna maupun karakteristik lainnya. Dari hasil praktikum dapat diketahui bahwa bentuk, tepian,warna dan elevasidari bakteri dan fungi. Untuk bakteri, bentuknya ada yang bundar, rizoid,tidak beraturan dan menyebar dengan yang tepian siliat, berlekuk, bercabang,berombak dan licin. Warna yang dapat dilihat dari koloni bakteri pada sampel air ini adalah semua berwarna putih susu dan elevasi pada semua sampel air ini adalah datar dan ada pula yang cembung. Akan tetapi terdapat sekitar dua sampel air yang tidak terkontaminasi oleh bakteri.
Koloni-koloni yang telah ditemukan pada masing-masing medium kemudian diidentifikasikan morfologinya yaitu bentuk luar, warna, struktur dalamkoloni, tepi koloni, elevasi serta jumlah koloninya.Pada masing-masing media sendiri terdapat keanekaragaman dalam morfologi tersebut. Koloni bakteri dapat dengan mudah dibedakan dari koloni lainnya dengan adanya penampakan umum berupa lender dan agak mengkilap. Bakteri adalah salah satu contoh mikroorganisme yang penting dan memiliki bentuk yang beragam.Pada umumnya bakteri berhubungan dengan makanan. Adanya bakteri dalam bahan pangan dapat mengakibatkan pembusukan yang tidak diinginkan atau menimbulkan penyakit yang ditularkan melalui makanan atau dapat melangsungkan fermentasi yang menguntungkan.
Praktikum kali ini adalah mempelajari teknik isolasi mikroba. Teknik isolasi mikroorganisme adalah suatu usaha untuk menumbuhkan mikroba di luar lingkungan alamiahnya. Pemisahan mikroorganisme dari lingkungannya ini bertujuan untuk memperoleh biakan bakteri yang murni. alaminya Di kehidupan normalnya atau di habitat alamiahnya mikroba sulit ditemukan dalam bentuk koloni sendiri. Mikroba ini pasti ditemukan dalam bentuk koloni yang hidup bersama-sama dengan koloni mikroba yang lainnya. Oleh karena itu, pengisolasian ini dilakukan.
  Pada percobaan ini dalam mengisolasi mikroba, dilakukan dengan cara teknik. Dimana teknik goresannya dilakukan dalam cawan petri dengan menggunakan jarum ose yang sebelumnya dipanaskan pada api bunsen lalu dicelupkan pada alkohol untuk sterilisasi jarumnya. Goresan diberikan sangat tipis sekali pada permukaan atas medium dalam cawan petri secara zig-zag.
Pengisolasian ini dilanjutkan dengan pembuatan medium tempat mikroba ini nantinya akan tumbuh atau dengan kata lain membuat habitus sintetisnya. Medium ini terlebih dahulu disterilkan dengan cara melidah-apikan mulut botol tempat penyimpanan medium agar tersebut. Begitupun dengan cawan petri itu sendiri. Sebelum semua prosedur kerja dilakukan terlebih dahulu tangan harus disterilkan menggunakan alcohol 70% yang disemprotkan ke seluruh permukaan tangan.
Dalam perlakuan pengisolasian mikroba, hanya satu jenis mikroba yang digunakan yakni bakteri dan dua media pula yang digunakan untuk habitat pertumbuhan bakteri tersebut yakni medium NA dan medium PDA. Dimana medium NA berfungsi untuk membiakan berbagai macam mikroorganisme serta kultur bakteri. Sedangkan medium PDA berfungsi untuk menumbuhkan fungi jenis kapang. Pada praktikum ini kita mempelajari bagaimana melakukan teknik inokulasi biakan mikroorganisme pada medium steril sehingga bisa mendefinisikan bahwa teknik inokulasi adalah pekerjaan memindahkan bakteri dari medium lama kemedium baru dengan tingkat ketelitian sangat tinggi dan dituntut untuk bekerja secara aseptic yaitu bebas dari pengaruh kontaminan mikroorganisme yang lain. Teknik aseptic dilakukan dengan penyediaan alat-alat kerja yang steril dan bekerja didekat api Bunsen agar terhindar dari kontaminan udara.pada waktu inokulasi jarum yang digunakan untuk meindahkan mikroba harus dipijarkan diatas api segera sebelum dan sesudah melakukan pemindahan. Pemanasan ini menghancurkan semua bentuk kehidupan yang ada pada permukaan jarum atau alat pemindahan, setelah di inokulasi biakan bakteri disimpan dan diinkubasi dalam lingkungan yang sesuai untuk petumbuhan.
Setelah diinkubasi selama 48 jam diperoleh hasil pertumbuhan mikroba pada medium NA dan medium PDA. Tetapi pada laporan ini saya tidak menjelaskan berapa jumlah koloni yang terbentuk pada medium NA dan pada medium PDA. Hal ini disebabkan karena hasil pemotretan gambar pada hasil pengamatan tidak jelas, sehingga membingungkan untuk menjelaskan jumlah koloni bakteri yang terbentuk. 





BAB V
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Dari percobaan yang dilakukan ini dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1.      Teknik isolasi mikroorganisme adalah suatu usaha untuk  menumbuhkan mikroba diluar dari lingkungan alamiahnya, untuk memperoleh biakan murni. Biakan murni yaitu mikroba yang sudah tidak bercampur lagi dengan mikroba lainnya.
2.      Teknik yang digunakan untuk teknik isolasi mikroba adalah teknik goresan, yaitu metode goresan radian, langsung dan kuadran.
3.      Medium yang digunakan untuk biakkan murni adalah medium NA untuk biakkan bakteri dan medium PDA untuk biakkan kapang.










DAFTAR PUSTAKA
Afrianto, L., 2004, Menghitung Mikroba Pada Bahan Makanan, Cakrawala (Suplemen pikiran rakyat untuk iptek), Farmasi FMIPA ITB : Bandung.
J.Pelczar Michael, 2005, Dasar-Dasar Mikrobiologi, Jakarta : UI-Press.
Karliana Itjeu dan Sunnayo Gani Rina, 2008, Karajterisasi Mikroba Dalam Air Pendingin Skunder RSG-Gas, Jurnal Teknologi Reaktor dan Keselamatan Nukli, Vol. 12 (3).
Nuraida Lilis, Palupi Nurhoni Sri, Putri Dian Ekasari dan Widyanti Ni Wayan Y., 2006, Potensi Talas (Colucosia Esculenta (L) Schott) dan Sukun (Artocorpus Altilitis (Park) Fosberg) Untuk Mendukung Pertumbuhan Bakteri Asam Laktat Probiotik, Jurnal Sminar Nasional PATPI, Jakarta.
Nur Indriyani, Asnani, 2007, Penuntun Praktikum Mikrobiologi Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Unhalu : Kendari.
Rahmaningsi Sri, Wilis Sri dan Mulyana Achmad, 2012, Bakteri Potogen dari Perairan Pantai dan Kawasan Tambak di Kecamatan Jenu Kabupaten Tuban, Jurnal Ekologia, Vol. 12 (1).
Thalib Amilius, Widiawati Y., dan Hamid H., 2004, Uji Efektif Isolasi Bakteri Hasil Isolasi Mikroba Rumen dengan Media Asetogen sebagai Inhibutor Metanogenesis, JLTV, Vol. 9 (4).

 







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar